Sabtu, 06 Juli 2013

[Oase Iman] Agar Anak Bahagia



Anak adalah nikmat besar yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada kita. Akan tetapi  tidak semua dari kita mengerti bagaimana menjaga nikmat tersebut. Menjaga akhlaq dan keimanan mereka adalah yang harus di utamakan. Itulah yang diharap dan diinginkan  oleh anak biar tidak diucap oleh lidah mereka.

Orang tua cerdas dan bijak adalah orang yang senantiasa tahu apa yang dibutuhkan oleh anak-anaknya. Dan diantara hal yang dibutuhkan oleh anak tidak ada yang melebihi dari pentingnya keselamatannya kelak setelah kehidupan di dunia ini. Jika ada orang tua yang begitu semangat menyekolahkan anaknya di pendidikan tinggi dengan harapan agar anaknya kelak mendapatkan pekerjaan yang layak dan menguntungkan dari segi materi. Atau seorang tua membekali modal besar untuk anaknya agar bisa mandiri dan makmur dalam kehidupannya di dunia ini. Sungguh ia adalah orang tua yang cerdas, senantiasa berfikir akan masa depan sang anak. Akan tetapi seorang tua tersebut akan menjadi tidak bijak  lagi jika ternyata melupakan masa depan yang lebih lama lagi yaitu kehidupan setelah kehidupan  di dunia ini.

Ada masa depan nanti di alam barzah yang tidak hanya enam puluh atau seratus tahun akan tetapi ribuan tahun, dan bersama penantian itu sang anak akan menuai apa yang diperbuat saat di dunia dulu. Dan nanti setelah kehidupan alam barzah akan dilanjutkan menuju kebahagiaan yang hakiki atau kesengsaraan yang hakiki  di surga atau di neraka  .

Siapa yang rela jika anaknya disiksa di alam barzah dan  di akhirat nanti? Disiksa karena kita sebagai orang tua tidak pernah memikirkan masa depan mereka setelah kehidupan ini. Disiksa karena kita sebagai orang tua telah tidak memikirkan bekal anak-anak kita di kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Kita mungkin akan mudah tanggap jika anak kita gagal ujian akhir di sekolah atau universitas, atau gagal dalam sebuah usaha dagangnya. Akan tetapi kenapa kita tidak mudah tanggap dengan anak kita yang malas melakukan Shalat atau mulai melakukan sesuatu yang dilarang oleh Allah? Sungguh bahasa cinta adalah amat indah dan akan menghadirkan keindahan. Cinta yang sesungguhnya kepada anak akan diterjemahkan dengan kepedulian terhadap masa depan anak. Dan tidak ada masa depan yang sesungguhnya selain masa depan di akhirat. Bukan cinta yang sesungguhnya bagi orang tua yang hanya ingin membahagiakan anaknya selama enam puluh tahun sepanjang hidupnya di dunia lalu melupakan kehidupan yang lebih lama setelah di dunia ini.

     Yang berani membiayai sekolah anaknya untuk mencari ilmu dunia dengan biaya mahal tentu akan rela membiayai anaknya untuk mengambil bekal di akhirat dengan biaya yang lebih mahal. Jika masih ragu untuk yang demikian itu maka sangat diragukan kecintaan orang tua tersebut terhadap anaknya bahkan sangat mungkin diragukan keimanannya kepada kehidupan setelah kehidupan di dunia ini.

Dan tidak sampai disini, orang tua yang lalai memikirkan kebahagian anaknya kelak di akhirat akan menemukan kesengsaran yang amat sangat seperti yang pernah dikisahkan oleh Rasulullah Saw. Kisah orang ahli ibadah yang hendak menuju ke surga akan tetapi tiba-tiba ada yang menyeru dari dasar neraka jahannam menginginkan agar orang yang hendak masuk surga itu dimasukkan ke neraka bersamanya. Melihat kejadian seperti ini Malaikat menghadap kepada Allah dan Allah memerintahkan Malaikat agar menggiring orang tersebut ke neraka. Ia adalah orang tua  yang ahli ibadah, ahli sedekah dan ahli kebaikan akan tetapi telah membiarkan sang anak tanpa ada bimbingan agar semakin dekat kepada Allah dan tanpa pembekalan untuk di akhirat. Maka disebabkan keteledorannya dalam mempersiapkan masa depan anaknya di akhirat maka ia pun ikut rugi bersama sang anak di neraka jahannam. Wallahu a'lam bishshowab.

[Oase Iman] Isra Mi'raj Untuk Keindahan



     Diantara saat teramat  indah  yang dilalui oleh  Rosululloh SAW adalah saat Isra Mi'raj, saat  Rosululloh SAW berdialog khusus dengan Allah SWT. Sebuah kejadian yang tidak bisa disifati oleh siapapun kecuali oleh Allah  SWT.  Rosululloh SAW melihat Allah SWT, Dzat yang tidak menyerupai apa dan siapapun. Sehingga cara melihatnya pun bukan urusan akal untuk memikirkanya, akan tetapi itu urusan hati untuk mengimaninya. Yang jelas  hal itu pernah terjadi pada Rosululloh SAW.Dan yang pasti Rosululloh SAW melihat dengan mata hatinya.
     Dimulai dari kebingungan Rosululloh SAW untuk bersalam kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mewahyukan salam yang tepat dari hamba untuk-Nya yaitu “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah SWT).Saat itu pun Allah menjawab “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarokatuh”(Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW).Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah Sholat yang di bawa oleh Rosululloh SAW dari perjalanan Isra Mi'raj.
     Pesan yang bisa dibaca dari bacaan tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan sholat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah SWT dengan berbekal diri dengan3 bentuk kebaikan. Yang pertamaadalah hubungan baik dengan Allah SWT. Kedua hubungan baik dengan Rasuulullah SAW. Ketiga hubungan baik dengan sesama manusia.
     Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan berusaha menjalin hubugan baik kepada Allah SWT ternyata tidak cukup akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rosululloh SAW. Digambarkan dalam tasyahud tersebutseorang hamba yang menghadap kepada Allah SWT didalam sholat ia harus mengucapkan salam kepada  Rosulillah  SAW  untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan.
     Sholat yang merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan  khusus seorang hamba kepada Allah SWT akan tetapi justru disaat lagi khusuk-khusuknya  kepada Allah SWT, seorang hamba harus mengingat makhluk Agung Rosululloh SAW  di dalam sholatnya. (Ya Rosululloh SAW alangkah agungnya dirimu disaat kami menghadap penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak di anggap benar jika kami tidak mengingatmu). Dan ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rosululloh SAW.
     Artinya sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah WT dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi makna kecintaan kepada Rosululloh SAW dan banyak membaca shalawat untuknya.
     Dan pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rosululloh SAWsaja ternyata belum di anggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Yaitu jika seorang hamba dalam sholatnya berhenti pada salam kepada Rosululloh SAW dan tidak melanjutkanya maka penghadapannya kepada Allah SWT ini pun tidak dianggap sah.
     Maka demi kesempurnaan sholatnya seorang hamba harus mengucapkan “Assalam alaina wa'ala 'ibadillahish sholihin” (Kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah SWT dan hamba-hamba-Nya yang sholih). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang di ikrarkan oleh seorang hamba di saat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah SWT. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak shalat, puasa dan membaca sholawat kepada Rosululloh SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.
     Kemudian disaat kita hendak keluar dari sholatpun kita harus mengucapkan kalimat”Assalamualaikum” dan bukan dzikir-dzikir yang lainya, seperti Lailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah kita sholat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yangmerugikan orang lain.
     Itulah pendidikan keindahan yang bisa di petik dari makna sholat dan kisah Isro mi’roj, yaitu pendidikan keindahan yang sesungguhnya indah kepada Allah SWT, Rosululloh SAW dan sesama manusia. Sungguh benar orang yang telah shalat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran.
Wallahu a'lam bishshowab.