Diantara saat teramat indah yang dilalui oleh Rosululloh SAW adalah saat Isra Mi'raj, saat Rosululloh SAW berdialog khusus dengan Allah SWT. Sebuah kejadian yang tidak bisa disifati oleh siapapun kecuali oleh Allah SWT. Rosululloh SAW melihat Allah SWT, Dzat yang tidak menyerupai apa dan siapapun. Sehingga cara melihatnya pun bukan urusan akal untuk memikirkanya, akan tetapi itu urusan hati untuk mengimaninya. Yang jelas hal itu pernah terjadi pada Rosululloh SAW.Dan yang pasti Rosululloh SAW melihat dengan mata hatinya.
Dimulai dari kebingungan Rosululloh SAW untuk bersalam kepada Allah SWT, hingga Allah SWT mewahyukan salam yang tepat dari hamba untuk-Nya yaitu “Attahiyyatul mubarokatush sholawaatuth thoyyibaatu lillah” (salam sejahtera yang penuh barokah dan salam sejahtera yang amat baik adalah milik Allah SWT).Saat itu pun Allah menjawab “Assalamu alaika ayyuhannabiyyu warahmatullahi wabarokatuh”(Salam sejahtera, barokah dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu wahai Nabi Muhammad SAW).Kemudian salam itu diabadikan dalam perintah Sholat yang di bawa oleh Rosululloh SAW dari perjalanan Isra Mi'raj.
Pesan yang bisa dibaca dari bacaan tasyahud ini adalah seorang hamba yang melakukan sholat sebenarnya adalah melakukan perjalanan menuju Allah SWT dengan berbekal diri dengan3 bentuk kebaikan. Yang pertamaadalah hubungan baik dengan Allah SWT. Kedua hubungan baik dengan Rasuulullah SAW. Ketiga hubungan baik dengan sesama manusia.
Seorang hamba yang benar-benar menghadap kepada Allah SWT dan berusaha menjalin hubugan baik kepada Allah SWT ternyata tidak cukup akan tetapi ia harus menjalin hubungan baik kepada Rosululloh SAW. Digambarkan dalam tasyahud tersebutseorang hamba yang menghadap kepada Allah SWT didalam sholat ia harus mengucapkan salam kepada Rosulillah SAW untuk keabsahan sebuah penghambaan dan penghadapan.
Sholat yang merupakan ibadah yang digambarkan sebagai penghadapan khusus seorang hamba kepada Allah SWT akan tetapi justru disaat lagi khusuk-khusuknya kepada Allah SWT, seorang hamba harus mengingat makhluk Agung Rosululloh SAW di dalam sholatnya. (Ya Rosululloh SAW alangkah agungnya dirimu disaat kami menghadap penciptamu ternyata penghadapan kami pun tidak di anggap benar jika kami tidak mengingatmu). Dan ternyata tidak cukup hanya mengingat akan tetapi harus mengucapkan salam dengan salam yang seolah-olah berdialog langsung dengan Rosululloh SAW.
Artinya sebanyak apapun seseorang beribadah kepada Allah WT dengan sujud puasa dan haji yang tidak terhitung ternyata tidak ada maknanya jika tidak diiringi makna kecintaan kepada Rosululloh SAW dan banyak membaca shalawat untuknya.
Dan pesan selanjutnya, yang sudah baik kepada Allah SWT dan Rosululloh SAWsaja ternyata belum di anggap benar seperti yang digambarkan dalam bacaan tasyahud. Yaitu jika seorang hamba dalam sholatnya berhenti pada salam kepada Rosululloh SAW dan tidak melanjutkanya maka penghadapannya kepada Allah SWT ini pun tidak dianggap sah.
Maka demi kesempurnaan sholatnya seorang hamba harus mengucapkan “Assalam alaina wa'ala 'ibadillahish sholihin” (Kesejahteraan semoga terlimpah kepada kami semua hamba Allah SWT dan hamba-hamba-Nya yang sholih). Maknanya ini adalah sebuah upaya menciptakan keindahan kepada sesama yang di ikrarkan oleh seorang hamba di saat seorang hamba lagi khusuk menghadap kepada Allah SWT. Hal itu menunjukkan begitu besarnya kewajiban kita kepada sesama manusia. Sehingga belum dianggap baik seorang hamba yang banyak shalat, puasa dan membaca sholawat kepada Rosululloh SAW jika belum bisa menjalin hubungan baik kepada orang tua, saudara, tetangga dan masyarakatnya.
Kemudian disaat kita hendak keluar dari sholatpun kita harus mengucapkan kalimat”Assalamualaikum” dan bukan dzikir-dzikir yang lainya, seperti Lailaaha illallah dan Subhanallah. Itu artinya kita diingatkan kembali bahwa setelah kita sholat kita akan berhadapan dengan sesama kita. Sudahkah kita siap untuk menjalin keindahan dengan sesama tanpa dusta, gunjingan, aniaya dan perbuatan yangmerugikan orang lain.
Itulah pendidikan keindahan yang bisa di petik dari makna sholat dan kisah Isro mi’roj, yaitu pendidikan keindahan yang sesungguhnya indah kepada Allah SWT, Rosululloh SAW dan sesama manusia. Sungguh benar orang yang telah shalat dengan benar akan terhindar dari kekejian dan kemungkaran.
Wallahu a'lam bishshowab.







0 komentar:
Posting Komentar